top of page

Apakah Energi Hidrogen Adalah Kunci Menuju Netralitas Karbon?


Industri logistik kini menghadapi tekanan untuk mendekarbonisasi dan guna mencapai target net-zero. Ini didorong oleh permintaan akan alternatif yang lebih ramah lingkungan dari konsumen, ditambah dengan perubahan regulasi pemerintah-pemerintah dunia dan kemajuan teknologi yang kini menuju ekonomi yang lebih ramah lingkungan.


Pada tahun 2019, Komisi Eropa mengumumkan Green Deal, yang berisi langkah-langkah ambisius dalam pemangkasan emisi gas rumah kaca hingga investasi besar dalam penelitian dan inovasi dengan tujuan mencapai netralitas karbon. Rencananya adalah mencapai pengurangan hingga 55% dalam emisi gas rumah kaca pada tahun 2030 dan Uni Eropa mencapai Carbon Neutral pada tahun 2050. Sementara itu, kini sudah tersedia opsi lain, yaitu Hidrogen yang menawarkan banyak keuntungan dalam industri-industri yang ingin mengurangi emisi.


Pertama-tama, penting untuk memahami tiga jenis utama energi hidrogen yang digunakan saat ini:


Hidrogen Abu-abu adalah bentuk umum dari energi hidrogen. Hidrogen abu-abu dibuat dengan menggunakan reaksi metana uap namun tanpa menangkap gas rumah kaca yang dihasilkan dalam proses tersebut. Ini adalah bentuk produksi hidrogen yang paling murah atau berkelanjutan.


Hidrogen Biru menggabungkan gas alam dan air yang dipanaskan dalam bentuk uap. Hidrogen biru sering disebut sebagai "bersih". Namun, penelitian dari Cornell dan Stanford menunjukkan bahwa jejak karbon untuk menciptakan hidrogen biru lebih dari 20% lebih besar daripada menggunakan gas alam atau batubara langsung untuk pemanasan. Ini juga sekitar 60% lebih besar daripada menggunakan minyak diesel untuk pemanasan.


Hidrogen Hijau diproduksi tanpa emisi gas rumah kaca berbahaya. Hidrogen hijau dibuat dengan menggunakan listrik dari sumber energi terbarukan, seperti tenaga surya atau tenaga angin, untuk menghasilkan hidrogen. Karena biaya produksinya yang mahal, hidrogen hijau hanya menyumbang persentase kecil dari total produksi hidrogen di seluruh dunia.


Mesin hidrogen dalam industri otomotif dan truk


Sepuluh tahun yang lalu, tenaga hidrogen dan tenaga listrik adalah dua pesaing utama dalam menggantikan mesin pembakaran internal. Secara teori, hidrogen menjadi alternatif yang ideal karena menawarkan waktu pengisian bahan bakar dan jarak tempuh yang serupa dengan BBM dan menghasilkan nol emisi.


Mobil hidrogen telah ada sejak tahun 1960-an, ketika General Motors meluncurkan Electrovan. Namun, mereka belum bisa bersaing dengan kendaraan listrik. Pada akhir 2021, hanya ada sekitar 25.000 mobil hidrogen, dengan sekitar 650 stasiun pengisian hidrogen di seluruh dunia, dan hanya dua model yang tersedia untuk masyarakat umum: Toyota Mirai dan Hyundai Nexo. Sebaliknya, penjualan mobil listrik dua kali lipat pada tahun 2021, mencapai 6,6 juta di seluruh dunia dengan total 16,5 juta kendaraan listrik di jalan dari beberapa produsen terbesar di dunia.


Untuk kendaraan listrik, efisiensinya berkisar antara 70% hingga 80%. Sementara untuk mobil hidrogen, efisiensinya sekitar 25% hingga 35%. Ini berarti mobil hidrogen mengonsumsi energi dua hingga tiga kali lebih banyak daripada EV. Namun, hidrogen memiliki peluang di kondisi di mana baterai tidak mencukupi, seperti untuk transportasi dalam skala yang lebih luas atau jarak tempuh jauh.


Truk bertenaga hidrogen


Baterai bisa tidak efisien karena membutuhkan waktu pengisian yang lama. Mereka berat dan tidak memiliki infrastruktur untuk truk dalam melakukan perjalanan jarak jauh, rute yang tidak terduga, dan peraturan waktu berkendara yang ketat. Berkat waktu pengisian yang lebih cepat, jarak tempuh yang lebih jauh, dan berat yang lebih ringan, energi hidrogen menjadi alternatif menarik bagi baterai dan bahan bakar tradisional. Beberapa perusahaan, seperti Volvo Trucks, sudah mulai menguji truk bertenaga hidrogen dengan jangkauan 1000 km. Namun, masih ada beberapa tantangan utama untuk adopsi massal.


Karena biaya investasi dan rantai pasok yang kompleks, stasiun pengisian bahan bakar hidrogen masih langka saat ini. Padahal, stasiun pengisian bahan bakar hidrogen tidak memerlukan peningkatan jaringan listrik, memiliki jejak karbon yang lebih kecil, dan waktu pengisian yang lebih cepat, yang berarti lebih banyak truk dapat menggunakan fasilitas tersebut dibandingkan dengan stasiun pengisian kendaraan listrik. Saat permintaan kendaraan meningkat dan biayanya turun, stasiun pengisian bahan bakar hidrogen akan lebih banyak. Penelitian oleh McKinsey menunjukkan bahwa operator HRS dapat mencapai titik ekuilibrium pada tahun 2025 ketika melayani armada truk kecil. Dan dalam jangka panjang, penelitian menunjukkan bahwa transportasi truk bertenaga hidrogen akan lebih murah daripada diesel secara keseluruhan. Namun, masih ada ketidakpastian mengenai timing, model bisnis, dan kemampuannya mengakomodir transportasi jarak jauh.


Sebuah ekosistem yang sehat harus mengembangkan pasokan dan permintaan yang aman untuk truk bertenaga hidrogen menjadi umum di masa depan. Menurut McKinsey, investasi awal yang diperlukan untuk membangun dan memelihara infrastruktur, tingkat pengembalian investasi kemungkinan akan lebih rendah dan akan membutuhkan lebih banyak waktu untuk memberikan hasil. Untuk menjadikan ekosistem tersebut efektif dan efisien, McKinsey mengilustrasikan beberapa contoh parameter yang perlu ada:

  • Pemerintah menciptakan kerangka hukum yang stabil.

  • Para pemain bersedia memberikan pembiayaan untuk ekspansi.

  • Produsen hidrogen dapat memproduksi hidrogen hijau dengan biaya lebih rendah dan dalam jumlah yang cukup.

  • Penyedia HRS membangun cukup stasiun pengisian bahan bakar.


Proyek-proyek yang sedang berlangsung


Hyzon Motors adalah perusahaan yang fokus pada percepatan adopsi nol emisi untuk penggunaan tingkat sedang hingga berat dalam sektor transportasi yang didukung oleh hidrogen. Perusahaan ini baru-baru ini mengumumkan rencana "Repower" untuk mengubah kendaraan diesel bekas menjadi truk bertenaga sel bahan bakar hidrogen. Perusahaan yang berkantor pusat di Amerika Serikat ini adalah salah satu contoh yang dari penggunaan tenaga hidrogen dalam sektor mobilitas.


Energi hidrogen dalam industri penerbangan

Penting untuk mencatat bahwa pertumbuhan dari industri transportasi udara telah meningkatkan emisi penerbangan selama beberapa tahun terakhir, menyumbang 2,5% dari emisi CO2 global dan 1,9% dari emisi gas rumah kaca pada tahun 2020.


Sekitar dua pertiga dari emisi ini berasal dari pesawat jarak pendek dan menengah, yang menyumbang 90% dari semua penerbangan. Meskipun efisiensi terus berlanjut, emisi penerbangan akan meningkat dua kali lipat menjadi dua gigaton CO2 pada tahun 2050. Hal ini menunjukkan bahwa langkah-langkah dekarbonisasi jangka pendek dan jangka panjang yang lebih lanjut, seperti menggunakan Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan (SAF), pesawat bertenaga listrik dan hidrogen, akan diperlukan untuk mencapai netralitas karbon pada tahun 2050.


Untuk alasan ini, institusi seperti International Air Transport Association, atau IATA, sudah mengambil tindakan. Mereka telah menyetujui resolusi yang mencakup sejumlah solusi dekarbonisasi jangka pendek dan jangka panjang. Solusi-solusi ini melibatkan sektor-sektor seperti Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan (SAF) dan pengembangan teknologi pesawat bertenaga hidrogen. Namun, adopsi pesawat bertenaga hidrogen dalam penerbangan masih dalam tahap awal pengembangan dan belum mencapai tingkat kematangan yang sama dengan pesawat bertenaga bahan bakar fosil. Masih ada banyak tantangan teknis dan ekonomi yang harus diatasi sebelum pesawat bertenaga hidrogen dapat diterapkan secara luas dalam industri penerbangan.


Energi hidrogen memiliki potensi besar dalam sektor transportasi untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan mencapai target net-zero. Namun, adopsi massal dan penerapan yang luas masih menghadapi beberapa tantangan, termasuk biaya produksi hidrogen hijau yang tinggi, kurangnya infrastruktur pengisian hidrogen, dan persaingan dengan kendaraan listrik. Seiring dengan kemajuan teknologi, penurunan biaya, dan dukungan pemerintah yang lebih lanjut, energi hidrogen diharapkan akan menjadi komponen penting dalam transisi menuju transportasi yang lebih berkelanjutan.


GK-Plug and Play sebagai bagian dari ekosistem inovasi global di Indonesia, memiliki tujuan untuk membawa perkembangan-perkembangan, inovasi-inovasi dan informasi yang terjadi di industri seluruh dunia ke Indonesia. Dengan harapan hal-hal tersebut mampu membawa perubahan dan memacu serta memeriahkan iklim inovasi di Indonesia. Jika anda atau perusahaan anda sedang dalam proses menuju penggunaan energi terbarukan, kami di GK-Plug and Play mampu memberikan konsultasi dan menghubungkan anda dengan startup-startup inovatif di bidangnya, yang tergabung dalam ekosistem kami.


Bergabung dengan ekosistem inovasi global kami di sini




Comments


Recent Posts
Dukung Transformasi Digital, Assemblr Hadir dalam Tech for Business 2023

Dukung Transformasi Digital, Assemblr Hadir dalam Tech for Business 2023

Dukung Transformasi Digital, Assemblr Hadir dalam Tech for Business 2023

6Estates dan FundFluent Bekerjasama untuk Digitalisasi Sistem Pendanaan

6Estates dan FundFluent Bekerjasama untuk Digitalisasi Sistem Pendanaan

6Estates dan FundFluent Bekerjasama untuk Digitalisasi Sistem Pendanaan

BintanGO Raih Investasi Hingga 72 Miliar

BintanGO Raih Investasi Hingga 72 Miliar

BintanGO Raih Investasi Hingga 72 Miliar

bottom of page